Rabu, 30 November 2011

PESAN* 2

Bermula dari Pacaran, Terjerumus Ketagihan Gaul Bebas(COPY-AN)

Suatu ketika, seorang remaja putri sebuah SMA mengirim email kepada penulis. Hatinya tergugah setelah membaca salah satu artikel yang saya tulis berjudul “Jomblo vs Pacaran.” Ia pun menceritakan tentang pengalamannya yang kebablasan dalam bergaul sehingga melakukan hubungan seks di luar nikah. Setelah melakukannya, ternyata si pacar pergi meninggalkannya dan mencari cewek lain. Ia pun terluka tapi juga ketagihan.

Remaja cewek ini sadar perbuatannya salah tapi ia sulit melepaskan diri dari daya tarik gaul bebas. Selain itu, setiap kali ingin bertaubat, ia selalu merasa kotor dan tak pantas menerima ampunan Allah. Ia pun terjerembab lagi dalam lumpur dosa yang berkepanjangan.

Sobat remaja, cerita di atas adalah satu kisah nyata yang mewakili betapa memprihatinkan pergaulan generasi muda kita. Berawal dari pacaran yang makin membudaya di sekitar kita, pintu perzinaan jadi terbuka lebar. Banyak di antara remaja yang merasa malu bila dirinya belum pernah pacaran. Seakan-akan stempel ‘tak laku’ ditempelkan di dahi yang itu akan memalukan dirinya. Mereka pun berlomba-lomba untuk menggaet lawan jenis hanya sekadar agar tak jadi bahan olokan teman-temannya.

…Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan…

Itu dari segi remaja dan pergaulan teman-temannya. Orang tua yang tak paham bahayanya gaul bebas, turut andil dalam memberi angin segar bagi pintu perzinaan. Orang tua bingung ketika anaknya tak ada yang mengencani di malam Minggu padahal si anak sendiri memutuskan tak mau pacaran. Belum lagi masyarakat yang individual dan tak peduli terhadap orang lain ketika ada yang melakukan kemaksiatan. Parahnya, negara juga tak mau tahu betapa bahayanya membiarkan remaja gaul secara bebas. Tabloid-tabloid yang mengumbar aurat, tayangan TV dan film yang mengarah ke ajakan mendekati zina, semua itu mudah mendapatkan izin terbit dan tayang. Dan semua itu makin menjadi di momen Februari karena ada perayaan maksiat bernama Valentine’s day.

Jadilah fenomena remaja yang ketagihan gaul bebas seperti kisah di atas semakin merebak. Di saat ia ingin taubat, sejauh mata memandang ajakan maksiat yang disaksikannya. Jadilah ia gamang untuk berubah menjadi muslim yang baik. Padahal Allah itu Mahapemurah dan pengampun asalkan manusianya sendiri benar-benar taubatan nasuha. Tapi gimana mau taubat kalau lingkungan malah mendorong dia makin berbuat maksiat?

Sobat remaja, kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. Tapi bila saja kita mau peka, ada satu ujung pangkal dari semua kemungkaran yang terjadi yaitu diterapkannya system demokrasi dan dicampakkannya syariah Islam dari tengah-tengah umat. Seperti kita semua tahu bahwa demokrasi ditopang oleh salah satu tiang bernama kebebasan berperilaku.

…kemaksiatan karena gaul bebas memang seolah-olah benang kusut yang sulit diuraikan dalam masyarakat kita. …

Jadilah ada anggapan salah bahwa tiap orang bebas berperilaku semaunya tanpa ada satu pihak pun yang boleh melarang. Hal ini diperkuat dengan semakin parahnya virus sekulerisasi yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Gaul bebas terjadi karena pelakunya tidak menyadari bahwa kebebasan yang direguknya di dunia bakal dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Mereka, penganut gaul bebas itu lupa bahwa ada Allah yang Mahamelihat. Bila saja mereka menyadari bahwa tak ada satu jengkal tanah pun yang bebas dari pengawasannya, niscaya mereka tak berani berbuat melanggar syariat-Nya.

So, membasmi gaul bebas, ya basmi akarnya dulu. Yupz, demokrasi dan sekulerisme sudah waktunya dibuang ke tong sampah peradaban. Karena ada yang dibuang itu artinya ada yang dipake. Syariat Islam saja yang pantas untuk memimpin peradaban dunia yang beradab. Bila ini yang diambil, so pasti gaul bebas bakal dilibas. Gak bakal ada cerita remaja yang ketagihan berbuat maksiat. Hidup jadi aman dan nyaman untuk dinikmati. Jadinya, asik banget kan? Pasti iya donk. Sip dah ^_^

[ria fariana/voa-islam.com]

PESAN*

BERHATI-HATILAH DARI PARA PRIA SERIGALA BERBULU DOMBA (Sebab Mekarmu Hanya Sekali) (MAAF HANYA COPY-AN )

“Tiba-tiba lelaki yang dia kenal baik berubah menjadi buas, diia pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianx terenggut.!!!”

Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seoerti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.

Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.

Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?

Survei Membuktikan

Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…!

Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.

Kenapa Terjadi?

Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia.

Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…

Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.

Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)

Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana – pegang sini?

Ketahuilah wahai adikku, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.

Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang.

Sementara sekarang sudah banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!! (Andita SB)

Rabu, 19 Oktober 2011

lirik lagu korea *HowL - Love you - OST BBF

LOVE U
                                                                                                ost B.B.F

·         Chagu hikso kanyanggenaneo,ketel sicetow barami syeguw negetolchina Qana bayooo,,wo’ooo,,nayekasansuge kentenage kecunesaringgabayo atensanjow keci kansecunengoyu Love U,..keteltololimyo hichee cocinggonorogenchuw

REFF:
v Sarange gedegedence yoursuitamyow..
v Sarange gedenege huso hurachinthamyow chogi pyortinachoro notogencutatitende..hooooo
v Sarange iron nene conasuitamyow
v Sarange kithe kheren karochow chontamyonamodu chelmagalkeyow,,LOVE U 3x…young mouw niie..

·       Kede tarasogo koisayow chogekeiteya sumow kire nosiyapsuyow hotokeyooo’’ wo’ooo,,tiraduneriye  kurumage  tuhanggobutelkalkayo,
Chosingge delmahema madul suike Love U…keteltololimyow hiche cocinggonorogencu..
BACK TOO REFF…

contoh makalah *KESEHATAN*

I

KATA PENGANTAR
         Puji syukur kita panjatkan kehadiaran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan limpahan rahmat dan hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
        Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, ini disebabkan karena keterbatasan kami sebagai manusia biasa yang mungkin luput dari kesalahan. Makalah ini kami susun guna untuk mempermudah mahasiswa mempelajari mengenai   “ PERSEPSI TENTANG SEHAT SAKIT DAN PERILAKU SAKIT ’’.
         Kami berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, oleh karena itu, demi upaya peningkatan kualitas makalah ini, kami senantiasa mengharapkan konstribusi pemikiran anda, baik berupa kritik maupun saran yang bersifat membangun




                                                                                                                             Bulukumba, Mei 2011
           
                                                                                                                                     Tim Penyusun:
                                                                                                                                              N.N.V




II
BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
          Persepsi masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di pengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
          Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat. Batasan ‘sehat’ yang di berikan oleh organisasi kesehatan se-dunia “(WHO)” adalah “ a state of complete physical, mental and social wellbeing ” ( WHO, 1981:38 ). Dari batasan ini jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan social seseorang.
Dinegara-negara seperti Indonesia masih ada satu tahap lagi yang di lewati banyak penderita sebelum mereka datang ke petugas kesehatan, yaitu pergi berobat ke dukun atau ahli-ahli pengobatan tradisional lainnya ( Jordaan.1985 ; Sarwono.1992 ; Slamet-Velsink.1992 ). Dengan demikian makin parahlah keadaan penderita jika akhirnya meminta pertolongan seorang dokter, oleh sebab itu petugas kesehatan perlu menyelidiki persepsi tersebut sampai berkembang sedemikian rupa dan setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang lebih objektif. Dengan cara ini maka penggunaan sarana kesehatan diharapkan dapat lebih di tingkatkan.
B.RUMUSAN MASALAH
1.     Menyebutkan pengertian perilaku Sakit !
2.     Apakah factor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit ?
3.     Sebutkan tahap-tahap individu berproses !
III
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN PERILAKU SAKIT
          Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi. Perilaku sehat ini di perlihatkan oleh individu-individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Penilaian medis bukanlah merupakan satu-satunya kriteria yang menentukan tingkat kesehatan sesorang. Banyak keadaan di mana individu dapat melakukan fungsi sosialnya secara normal padahal secara medis menderita penyakit. Sebaliknya, tidak jarang pula individu merasa terganggu secara sosial psikologis padahal sacara medis mereka tergolong sehat. Penilaian individu terhadap status kesehatannya ini merupakan salah satu faktor yang menentukan perilakunya, yaitu perilaku sehat jika dia merasa dirinya sakit. Orang yang berpenyakit, belum tentu mengakibatkan perubahan perannya dalam masyarakat, sedangkan orang sakit biasanya akan menyebabkan perubahan  perannya dalam lingkungan keluarga atau masyarakatnya. Orang yang sakit tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya dilingkungam kerja dan keluarganya sehingga fungsinya itu harus di gantikan oleh orang lain. Kadang-kadang peranan orang yang sakit itu sedemikian luasnya sehingga peran yang di tinggalkannya itu tidak cukup di gantikan oleh satu orang saja melainkan harus digantikan oleh beberapa orang. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan perubahan dalam system social/lingkungan yang langsung berhubungan dengan si sakit. Dalam kehidupan sosial, orang-orang yang tergolong “medically iII” dan “martyr” dapat lebih mudah di terima oleh anggota masyarakat sebab penyakit mereka tidak mengganggu interaksi social mereka. Sebaliknya, orang akan merasa terganggu bila berhubungan dengan “hypochondriacal” atau “socially iII”.
B. FAKTOR YANG MENYEBABKAN ORANG BEREAKSI
Faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
·         Dikenakannya atau dirasakannya gejala-gejala/tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa.
·         Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.
·         Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya.
·         Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.
·         Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu)
IV
B. FAKTOR YANG MENYEBABKAN ORANG BEREAKSI
Faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
·         Dikenakannya atau dirasakannya gejala-gejala/tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa.
·         Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.
·         Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya.
·         Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.
·         Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu)
·         Informasi, pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu.
·         Perbedaan interprestasi terhadap gejala yang dikenalnya
·         Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit itu.
·         Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb).
          Dari faktor-faktor di atas dapat dibuat kategorisasi faktor pencetus perilaku sakit, yaitu faktor persepsi yang dipengaruhi oleh orientasi medis dan sosial-budaya; faktor intensitas gejala (menghilang atau terus menetap); faktor motivasi individu untuk mengatasi gejala yang ada; serta faktor sosial psikologis yang mempengaruhi respon sakit.
C.TAHAP-TAHAP INDIVIDU BERPROSES.
 Dalam menentukan reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :
a)     Tahap pengenalan gejala. Pada tahap ini individu memutuskan bahwa dirinya dalam keadaan sakit yang ditandai dengan rasa tidak enak dan keadaan itu dianggapnya dapat membahayakan dirinya.
b)     Tahap asumsi peranan sakit. Karena merasa sakit dan memerlukan pengobatan, individu mulai mencari pengakuan  dari kelompok acuannya (keluarga, tetangga, teman sekerja)tentang sakitnya itu dan kalau perlu meminta pembebasan dari pemenuhan tugas sehari-harinya.
c)     Tahap kpntak dengan pelayanan kesehatan. Disini individu mulai menghubungi sarana kesehatan sesuai dengan pengalamannya atau dari informasi yang diperoleh dari orang lain tentang tersedianya jenis-jenis pelayanan kesehatan. Pilihan terhadap sarana pelayanan kesehatan itu dengan sendirinya didasari atas kepercayaan atau keyakinan akan kemanjuran sarana tersebut. Perlu diperhatikan bahwa kecenderungan menggunakan perawatan tradisional tidak hanya terdapat di Negara-negara berkembang. Masyarakat Negara majupun mengenal system kesehatan alternatif (alternative medicine) yang banyak menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat dan menggunakan teknik pengobatan yang berbeda, seperti melalui meditasi, akupunktur, home opathi serta pencapaian keseimbangan fisik dan psikis (Patel,1978)
d)     Tahap ketergantungan si sakit. Individu memutuskan bahwa dirinya, sebagai orang yang sakit dan ingin disembuhkan, harus menggantungkan diri dan pasrah kepada prosedur pengobatan. Dia harus mematuhi perintah orang yang akan menyembuhkannya agar kesembuhan itu cepat terca-pai.
e)     Tahap penyembuhan atau rahabilitasi. Pada tahap ini si sakit memutuskan untuk melepaskan diri dari peranan sebagai orang sakit. Hal ini terjadi karena dia sudah sehat kembali dan dapat berfungsi seperti sediakala. Kadang-kadang terjadi  bahwa sebagai akibat dari penyakitnya itu individu  menjadi cacat. Dalam hal ini dia tetap melepaskan diri dari perannya sebagai orang sakit dan berusaha memulihkan fungsi sosialnya meskipun tidak optimal. Peran sakit seorang individu memiliki dampak timbal balik dengan lingkungannya dan seperti disebutkan pada awal bab ini, komunitas yang sistem sosialnya memberikan dukungan terhadap orang sakit akan mendorong anggota masyarakat untuk lebih cepat mengeluh sakit dan memenfaatkan dukungan sosial ini bagi kepentingan sendiri.


V
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
          Sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan sosial seseorang.
B.SARAN
          Kita sebagai anggota masyarakat harus mengubah persepsi kita tentang sehat dan sakit agar mendekati konsep yang lebih objektif dan menggunakan sarana kesehatan sesuai yang diharapkan.


J