Kamis, 20 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
lirik lagu korea *HowL - Love you - OST BBF
LOVE U
ost B.B.F
· Chagu hikso kanyanggenaneo,ketel sicetow barami syeguw negetolchina Qana bayooo,,wo’ooo,,nayekasansuge kentenage kecunesaringgabayo atensanjow keci kansecunengoyu Love U,..keteltololimyo hichee cocinggonorogenchuw…
REFF:
v Sarange gedegedence yoursuitamyow..
v Sarange gedenege huso hurachinthamyow chogi pyortinachoro notogencutatitende..hooooo
v Sarange iron nene conasuitamyow
v Sarange kithe kheren karochow chontamyonamodu chelmagalkeyow,,LOVE U 3x…young mouw niie..
· Kede tarasogo koisayow chogekeiteya sumow kire nosiyapsuyow hotokeyooo’’ wo’ooo,,tiraduneriye kurumage tuhanggobutelkalkayo,
Chosingge delmahema madul suike Love U…keteltololimyow hiche cocinggonorogencu..
BACK TOO REFF…
contoh makalah *KESEHATAN*
I
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadiaran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan limpahan rahmat dan hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, ini disebabkan karena keterbatasan kami sebagai manusia biasa yang mungkin luput dari kesalahan. Makalah ini kami susun guna untuk mempermudah mahasiswa mempelajari mengenai “ PERSEPSI TENTANG SEHAT SAKIT DAN PERILAKU SAKIT ’’.
Kami berharap agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, oleh karena itu, demi upaya peningkatan kualitas makalah ini, kami senantiasa mengharapkan konstribusi pemikiran anda, baik berupa kritik maupun saran yang bersifat membangun
Bulukumba, Mei 2011
N.N.V
II
BAB 1
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Persepsi masyarakat tentang kriteria tubuh sehat atau sakit, sifatnya tidaklah selalu obyektif. Bahkan lebih banyak unsur subjektif dalam menentukan kondisi tubuh seseorang. Persepsi masyarakat tentang sehat/sakit ini sangatlah di pengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu, disamping unsure sosial budaya.
Secara ilmiah penyakit di artikan sebagai gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan. Jadi penyakit itu bersifat objektif. Sebaliknya sakit adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit fenomena subjektif ini di tandai dengan perasaan tidak enak. Selama sesorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih di katakan sehat. Batasan ‘sehat’ yang di berikan oleh organisasi kesehatan se-dunia “(WHO)” adalah “ a state of complete physical, mental and social wellbeing ” ( WHO, 1981:38 ). Dari batasan ini jelas terlihat bahwa sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan social seseorang.
Dinegara-negara seperti Indonesia masih ada satu tahap lagi yang di lewati banyak penderita sebelum mereka datang ke petugas kesehatan, yaitu pergi berobat ke dukun atau ahli-ahli pengobatan tradisional lainnya ( Jordaan.1985 ; Sarwono.1992 ; Slamet-Velsink.1992 ). Dengan demikian makin parahlah keadaan penderita jika akhirnya meminta pertolongan seorang dokter, oleh sebab itu petugas kesehatan perlu menyelidiki persepsi tersebut sampai berkembang sedemikian rupa dan setelah itu mengusahakan mengubah persepsi tersebut agar mendekati konsep yang lebih objektif. Dengan cara ini maka penggunaan sarana kesehatan diharapkan dapat lebih di tingkatkan.
B.RUMUSAN MASALAH
1. Menyebutkan pengertian perilaku Sakit !
2. Apakah factor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit ?
3. Sebutkan tahap-tahap individu berproses !
III
V
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN PERILAKU SAKIT
Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri (personal hygiene), penjagaan kebugaran melalui olahraga dan makanan bergizi. Perilaku sehat ini di perlihatkan oleh individu-individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Penilaian medis bukanlah merupakan satu-satunya kriteria yang menentukan tingkat kesehatan sesorang. Banyak keadaan di mana individu dapat melakukan fungsi sosialnya secara normal padahal secara medis menderita penyakit. Sebaliknya, tidak jarang pula individu merasa terganggu secara sosial psikologis padahal sacara medis mereka tergolong sehat. Penilaian individu terhadap status kesehatannya ini merupakan salah satu faktor yang menentukan perilakunya, yaitu perilaku sehat jika dia merasa dirinya sakit. Orang yang berpenyakit, belum tentu mengakibatkan perubahan perannya dalam masyarakat, sedangkan orang sakit biasanya akan menyebabkan perubahan perannya dalam lingkungan keluarga atau masyarakatnya. Orang yang sakit tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya dilingkungam kerja dan keluarganya sehingga fungsinya itu harus di gantikan oleh orang lain. Kadang-kadang peranan orang yang sakit itu sedemikian luasnya sehingga peran yang di tinggalkannya itu tidak cukup di gantikan oleh satu orang saja melainkan harus digantikan oleh beberapa orang. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan perubahan dalam system social/lingkungan yang langsung berhubungan dengan si sakit. Dalam kehidupan sosial, orang-orang yang tergolong “medically iII” dan “martyr” dapat lebih mudah di terima oleh anggota masyarakat sebab penyakit mereka tidak mengganggu interaksi social mereka. Sebaliknya, orang akan merasa terganggu bila berhubungan dengan “hypochondriacal” atau “socially iII”.
B. FAKTOR YANG MENYEBABKAN ORANG BEREAKSI
Faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
· Dikenakannya atau dirasakannya gejala-gejala/tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa.
· Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.
· Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya.
· Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.
· Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu)
IV
B. FAKTOR YANG MENYEBABKAN ORANG BEREAKSI
Faktor yang menyebabkan orang bereaksi terhadap penyakit, antara lain :
· Dikenakannya atau dirasakannya gejala-gejala/tanda-tanda yang menyimpang dari keadaan biasa.
· Banyaknya gejala yang dianggap serius dan diperkirakan menimbulkan bahaya.
· Dampak gejala itu terhadap hubungan dengan keluarga, hubungan kerja dan dalam kegiatan sosial lainnya.
· Frekuensi dari gejala dan tanda-tanda yang tampak dan persistensinya.
· Nilai ambang dari mereka yang terkena gejala itu (susceptibility atau kemungkinan individu untuk diserang penyakit itu)
· Informasi, pengetahuan dan asumsi budaya tentang penyakit itu.
· Perbedaan interprestasi terhadap gejala yang dikenalnya
· Adanya kebutuhan untuk bertindak/berperilaku mengatasi gejala sakit itu.
· Tersedianya sarana kesehatan, kemudahan mencapai sarana tersebut, tersedianya biaya dan kemampuan untuk mengatasi stigma dan jarak sosial (rasa malu, takut, dsb).
Dari faktor-faktor di atas dapat dibuat kategorisasi faktor pencetus perilaku sakit, yaitu faktor persepsi yang dipengaruhi oleh orientasi medis dan sosial-budaya; faktor intensitas gejala (menghilang atau terus menetap); faktor motivasi individu untuk mengatasi gejala yang ada; serta faktor sosial psikologis yang mempengaruhi respon sakit.
C.TAHAP-TAHAP INDIVIDU BERPROSES.
Dalam menentukan reaksi/tindakannya sehubungan dengan gejala penyakit yang dirasakannya, menurut Suchman individu berproses melalui tahap-tahap berikut ini :
a) Tahap pengenalan gejala. Pada tahap ini individu memutuskan bahwa dirinya dalam keadaan sakit yang ditandai dengan rasa tidak enak dan keadaan itu dianggapnya dapat membahayakan dirinya.
b) Tahap asumsi peranan sakit. Karena merasa sakit dan memerlukan pengobatan, individu mulai mencari pengakuan dari kelompok acuannya (keluarga, tetangga, teman sekerja)tentang sakitnya itu dan kalau perlu meminta pembebasan dari pemenuhan tugas sehari-harinya.
c) Tahap kpntak dengan pelayanan kesehatan. Disini individu mulai menghubungi sarana kesehatan sesuai dengan pengalamannya atau dari informasi yang diperoleh dari orang lain tentang tersedianya jenis-jenis pelayanan kesehatan. Pilihan terhadap sarana pelayanan kesehatan itu dengan sendirinya didasari atas kepercayaan atau keyakinan akan kemanjuran sarana tersebut. Perlu diperhatikan bahwa kecenderungan menggunakan perawatan tradisional tidak hanya terdapat di Negara-negara berkembang. Masyarakat Negara majupun mengenal system kesehatan alternatif (alternative medicine) yang banyak menggunakan ramuan tumbuh-tumbuhan sebagai bahan obat dan menggunakan teknik pengobatan yang berbeda, seperti melalui meditasi, akupunktur, home opathi serta pencapaian keseimbangan fisik dan psikis (Patel,1978)
d) Tahap ketergantungan si sakit. Individu memutuskan bahwa dirinya, sebagai orang yang sakit dan ingin disembuhkan, harus menggantungkan diri dan pasrah kepada prosedur pengobatan. Dia harus mematuhi perintah orang yang akan menyembuhkannya agar kesembuhan itu cepat terca-pai.
e) Tahap penyembuhan atau rahabilitasi. Pada tahap ini si sakit memutuskan untuk melepaskan diri dari peranan sebagai orang sakit. Hal ini terjadi karena dia sudah sehat kembali dan dapat berfungsi seperti sediakala. Kadang-kadang terjadi bahwa sebagai akibat dari penyakitnya itu individu menjadi cacat. Dalam hal ini dia tetap melepaskan diri dari perannya sebagai orang sakit dan berusaha memulihkan fungsi sosialnya meskipun tidak optimal. Peran sakit seorang individu memiliki dampak timbal balik dengan lingkungannya dan seperti disebutkan pada awal bab ini, komunitas yang sistem sosialnya memberikan dukungan terhadap orang sakit akan mendorong anggota masyarakat untuk lebih cepat mengeluh sakit dan memenfaatkan dukungan sosial ini bagi kepentingan sendiri.
V
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Sehat itu tidak hanya menyangkut kondisi fisik, melainkan juga kondisi mental dan sosial seseorang.
B.SARAN
Kita sebagai anggota masyarakat harus mengubah persepsi kita tentang sehat dan sakit agar mendekati konsep yang lebih objektif dan menggunakan sarana kesehatan sesuai yang diharapkan.
J
Selasa, 18 Oktober 2011
ipa
| RINGKASAN |
| 1. Semua organisme atau makhluk hidup memiliki kesamaan ciri |
|
| 2. Terdapat jutaan organisme yang berbeda. |
|
| 3. Diveristas di antara organisme muncul lewat mutasi. |
|
| 4. Perbedaan di antara trait, terjadi dalam suatu populasi. |
|
| 5. Beberapa istilah penting |
|
| 6. Teori ilmiah berdasarkan atas sistematika observasi/pengamatan, hipotesa, dugaan, dan pengujian. Dunia luar (bukan keyakinan internal) adalah arena pengujian teori. |
I.P.A ..
VARIABEL DAN HIPOTESIS DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN IPA
Pertemuan 3
VARIABEL DAN HIPOTESIS
Tujuan
Setelah perkuliahan ini diharapkan dapat:
Menjelaskan tentang pengertian variabel dan menyebutkan lima jenis variabel yang dapat dikaji oleh peneliti pendidikanü
Membedakan variabel kuantitatif dan variabel kategorialü
Menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebasü
Menjelaskan pengertian hipotesis dan merumuskan dua hipotesis yang dapat dikaji dalam penelitian pendidikanü
Menjelaskan dua keuntungan dan dua kekurangan dari rumusan pertanyaan penelitian yang ditetapkan sebagai hipotesisü
Membedakan dan memberi contoh hipotesis langsung dan tak langsung.ü
Pentingnya mempelajari hubungan
Ciri terpenting pertanyaan penelitian adalah mencerminkan adanya hubungan yang akan diselidiki, meskipun tidak semua pertanyaan penelitian menunjukkan adanya hubungan. Kadang-kadang peneliti tertarik untuk mengkaji informasi deskriptif, menemukan tentang ”apa yang dirasakan” atau mendeskripsikan bagaimana ”tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu”.
Misalnya:
Perubahan apakah yang terjadi pada guru di sekolah dengan diimplementasikannya kurikulum baru?Ø
Bagaimanakah pendapat orang tua tentang program konseling di sekolah?Ø
Bagaimanakah cara guru melakukan pembelajaran berbasis kegiatan hands-on?Ø
Bagaimanakah aktivitas siswa bila guru melakukan pembelejaran teori yang terpadu dengan praktikum?Ø
Contoh di atas tidak menunjukkan adanya hubungan, karena peneliti hanya ingin mengidentifikasi karakteristik, tingkah laku, perasaan atau pendapat. Biasanya digunakan untuk memperoleh informasi sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian berikutnya. Masalah di atas merupakan pertanyaan penelitian yang sangat deskriptif, yang tidak memberikan gambaran tentang apa yang ada di balik ’pendapat’, ’perasaan’, ’tingkah laku’, dan ’kegiatan’. Penjelasannya sangat terbatas sehingga untuk menggali apa yang ada di balik semuanya itu diperlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam suatu penelitian diharapkan kita menemukan jawaban yang bersifat komprehensif tentang situasi, fenomena, tingkah laku dan karakteristik lainnya. Dengan memperoleh jawaban diharapkan kita dapat belajar tentang alam sekitar kita. Kita belajar memahami dunia dengan belajar memberikan penjelasan tentang bagaimana masing-masing bagian berhubungan satu dengan yang lain. Berdasarkan penjelasan itulah kita mulai mendeteksi pola atau hubungan antara masing-masing bagian.
Oleh karena itu dalam merumuskan hipotesis sebaiknya kita memunculkan adanya hubungan, meski kadang-kadang perumusan hubungan seringkali tidak bermakna, sehingga penelitian menjadi dangkal. Misalnya, bila sampel sangat kecil, rumusan hipotesis dan metodologinya tidak tepat, maka dapat terjadi penarikan kesimpulan yang keliru.
A. VARIABEL
1. Apakah variabel itu?
Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau obyek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi obyek, gaya belajar, harapan hidup.Ø
sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.à Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya Ø
Contoh:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ’reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan ’reinforcement’ dengan 3 cara berbeda, yaitu dengan:
(1) pujian verbal
(2) hadiah imbalan uang
(3) nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.
Maka: ’reinforcement’ merupakan suatu variabel (yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan.à
Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk ’kursi’ tanpaknya mudah.
Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya ’moltivasi’ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel ’motivasi’ ini dapat diukur.
Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan lebih jelas dan bermakna.
2. Variabel kuantitatif dan kategorial
a.
b.
Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinum dari yang rendah sampai tinggi misalnya badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasai belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B.
Variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5-0, misalnya:
o 5 (amat sangat berminat),
o 4 (sangat berminat),
o 3 (berminat),
o 2 (cukup berminat),
o 1 (kurang berminat),
o 0 (tidak berminat).
Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter, dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram, dll.
Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan ”perlakuan” atau ”metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama.
Berikut ini ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?
1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender
Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atu lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan fisika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agrsif pada anak
2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitaif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru
3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan orang ayah
o Gender guru dan subyek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaam partai politik
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ole peneliti:
1) Secara konseptual: variabel ’kecemasan” menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi ’ada’ atau ’tidak ada’ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan.
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi ’tinggi’, ’sedang’, ’rendah’ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).
3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil
Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel.
Misalnya:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang ‘diciptakan’ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.
Secara umum
1 variabel kuantitatif
1 variabel kategorial
Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, minat.
Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri malalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing
4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)
Hubungan antara variabel bebas dan veriabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Variabel bebas diasumsikan sebaggai dugaan ‘penyebab’ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil.
Tidak semua variabel independent merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut:
“Hubungan antara keberhasilan siswa dalam fisika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”.
5. Variabel extraneous (variabel ekstra)
Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya.
Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan.
Misalnya: variabel apakah yang dapat mempengarui pembelajaran siswa di kelas?
Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
Kepribadian guru,Ø
Tingkat kecerdasan siswa,Ø
Posisi jam mengajar,Ø
Buku ajar yang digunakan,Ø
Bentuk kegiatan pembelajaran,Ø
Metode mengajarØ
Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subyek penelitian ini tidak bervariasi.
B. HIPOTESIS
1. Apakah hipotesis itu?
Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?
Hipotesis: Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya.
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran tradisional?
Hipotesis: hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional.
Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.
2. Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argumen teoretis.
Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan berarti semakin memperkuatt gagasan awal teori relativitas Einstein.
3. Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual meskipun ada kekeliruan. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.
b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistik terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengmabilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.
4. Hipotesis yang signifikan
Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:
Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga.
Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukaki kelas regular daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas regular.
Hipotesis 3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran koperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.
Dari 3 hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meniliti lebih lanjut.
5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggim kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah.
Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:
1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional.
VARIABEL DAN HIPOTESIS
Tujuan
Setelah perkuliahan ini diharapkan dapat:
Menjelaskan tentang pengertian variabel dan menyebutkan lima jenis variabel yang dapat dikaji oleh peneliti pendidikanü
Membedakan variabel kuantitatif dan variabel kategorialü
Menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebasü
Menjelaskan pengertian hipotesis dan merumuskan dua hipotesis yang dapat dikaji dalam penelitian pendidikanü
Menjelaskan dua keuntungan dan dua kekurangan dari rumusan pertanyaan penelitian yang ditetapkan sebagai hipotesisü
Membedakan dan memberi contoh hipotesis langsung dan tak langsung.ü
Pentingnya mempelajari hubungan
Ciri terpenting pertanyaan penelitian adalah mencerminkan adanya hubungan yang akan diselidiki, meskipun tidak semua pertanyaan penelitian menunjukkan adanya hubungan. Kadang-kadang peneliti tertarik untuk mengkaji informasi deskriptif, menemukan tentang ”apa yang dirasakan” atau mendeskripsikan bagaimana ”tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu”.
Misalnya:
Perubahan apakah yang terjadi pada guru di sekolah dengan diimplementasikannya kurikulum baru?Ø
Bagaimanakah pendapat orang tua tentang program konseling di sekolah?Ø
Bagaimanakah cara guru melakukan pembelajaran berbasis kegiatan hands-on?Ø
Bagaimanakah aktivitas siswa bila guru melakukan pembelejaran teori yang terpadu dengan praktikum?Ø
Contoh di atas tidak menunjukkan adanya hubungan, karena peneliti hanya ingin mengidentifikasi karakteristik, tingkah laku, perasaan atau pendapat. Biasanya digunakan untuk memperoleh informasi sebagai langkah awal untuk melakukan penelitian berikutnya. Masalah di atas merupakan pertanyaan penelitian yang sangat deskriptif, yang tidak memberikan gambaran tentang apa yang ada di balik ’pendapat’, ’perasaan’, ’tingkah laku’, dan ’kegiatan’. Penjelasannya sangat terbatas sehingga untuk menggali apa yang ada di balik semuanya itu diperlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam suatu penelitian diharapkan kita menemukan jawaban yang bersifat komprehensif tentang situasi, fenomena, tingkah laku dan karakteristik lainnya. Dengan memperoleh jawaban diharapkan kita dapat belajar tentang alam sekitar kita. Kita belajar memahami dunia dengan belajar memberikan penjelasan tentang bagaimana masing-masing bagian berhubungan satu dengan yang lain. Berdasarkan penjelasan itulah kita mulai mendeteksi pola atau hubungan antara masing-masing bagian.
Oleh karena itu dalam merumuskan hipotesis sebaiknya kita memunculkan adanya hubungan, meski kadang-kadang perumusan hubungan seringkali tidak bermakna, sehingga penelitian menjadi dangkal. Misalnya, bila sampel sangat kecil, rumusan hipotesis dan metodologinya tidak tepat, maka dapat terjadi penarikan kesimpulan yang keliru.
A. VARIABEL
1. Apakah variabel itu?
Variabel adalah peubah, yaitu konsep yang dapat berubah atau diubah; kata yang menjelaskan tentang variasi dalam suatu kelompok atau obyek, misalnya; kursi, gender, warna mata, hasil belajar, motivasi, kecepatan. Kadang-kadang juga menjelaskan tentang sekelompok orang yang menjadi obyek, gaya belajar, harapan hidup.Ø
sehingga merupakan sesuatu yang konstan, bukan variabel.à Ada pula ciri yang bersifat konstanta yang tidak dapat berubah, misalnya bila kita melakukan penelitian di kelas tertentu. Individu dalam kelas ini tidak boleh diubah variasinya Ø
Contoh:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ’reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Peneliti tersebut kemudian membagi secara sistematis kelompok besar kelas 9 menjadi 3 subkelompok (kelas kecil). Kemudian ia melatih 3 orang guru untuk memberikan ’reinforcement’ dengan 3 cara berbeda, yaitu dengan:
(1) pujian verbal
(2) hadiah imbalan uang
(3) nilai ekstra untuk setiap tugas yang berhasil dilakukan siswa.
Maka: ’reinforcement’ merupakan suatu variabel (yang mengandung tiga variasi perlakuan); sedangkan kelas 9 merupakan sesuatu yang konstan.à
Kadang-kadang ada konsep yang memerlukan penjelasan, misalnya konsep kursi, sebab ada berbagai jenis kursi yang disesuaikan dengan fungsinya: kursi makan, kursi tamu, kursi malas dsb. Penjelasan untuk ’kursi’ tanpaknya mudah.
Ada pula konsep yang tidak mudah untuk dijelaskan, misalnya ’moltivasi’ yang perlu disepakati artinya. Maka peneliti harus menjelaskan dengan baik agar variabel ’motivasi’ ini dapat diukur.
Ada berbagai jenis variabel yang dapat diselidiki; peneliti harus memilih, karena tidak mungkin ia meneliti semua jenis variabel. Variabel diharapkan memiliki hubungan dan jika hubungan ini dapat diungkap, maka pemahaman kita tentang fenomena yang diteliti akan lebih jelas dan bermakna.
2. Variabel kuantitatif dan kategorial
a.
b.
Variabel kuantitatif kadang-kadang menggambarkan variasi derajat atau tingkatan sebagai suatu kontinum dari yang rendah sampai tinggi misalnya badan, kecerdasan, motivasi. Melalui cara kuantitatif dapat diukur bahwa A lebih pendek dari B; Ali lebih cerdas daripada Didi; motivasai belajar di kelas A lebih tinggi daripada kelas B.
Variabel kuantitatif dapat pula dijelaskan melalui angka, dari 5-0, misalnya:
o 5 (amat sangat berminat),
o 4 (sangat berminat),
o 3 (berminat),
o 2 (cukup berminat),
o 1 (kurang berminat),
o 0 (tidak berminat).
Variabel kuantitatif dapat dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil yang lazim digunakan untuk mengukur. Untuk ukuran panjang misalnya dapat dibagi menjadi km, meter, sentimeter, milimeter, dll. Atau untuk bobot dibagi menjadi ton, kuintal, kg, gram, milligram, dll.
Variabel kategorial tidak menggambarkan variasi derajat atau jumlah, tetapi menekankan pada perbedaan kualitatif seperti warna mata, gender, agama, pekerjaan atau pada penelitian pendidikan sering kali menentukan ”perlakuan” atau ”metode”. Jika seorang peneliti hendak membandingkan dua kelas yang dikenai perlakuan berbeda misalnya berbantuan komputer dan tanpa komputer, maka kedua kelas ini harus memiliki kemampuan yang sama.
Berikut ini ini disajikan sejumlah variabel. Manakah yang termasuk variabel kuantitatif dan variabel kategorial?
1) Merek mobil yang dimiliki
2) Kemampuan belajar
3) Etnis
4) Keterpaduan
5) Denyut jantung
6) Gender
Banyak peneliti pendidikan yang mengkaji hubungan antara
1) Dua atu lebih variabel kuantitatif misalnya,
o Usia sekolah dan minat belajar
o Kemampuan membaca dan kemampuan fisika
o Lamanya waktu menonton tv dengan tingkah laku agrsif pada anak
2) Satu variabel kategorial dan satu variabel kuantitaif
o Metode mengajar yang digunakan dan hasil belajar yang dicapai
o Pendekatan konseling dan tingkat kecemasan
o Gender siswa dan pujian yang diberikan oleh guru
3) Dua variabel kategorial
o Etnis dan pekerjaan orang ayah
o Gender guru dan subyek yang diajarkan
o Agama dan keanggotaam partai politik
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ole peneliti:
1) Secara konseptual: variabel ’kecemasan” menunjukkan derajat kecemasan (tinggi, sedang, rendah) bukan suatu dikotomi ’ada’ atau ’tidak ada’ kecemasan.
2) Membagi variabel menjadi dua atau beberapa kategori akan menghilangkan informasi rinci tentang variabel bila perbedaan individu berdasarkan kategori diabaikan.
3) Garis perbedaan pada kelompok misalnya tingkat kecemasan yang dibagi menjadi ’tinggi’, ’sedang’, ’rendah’ dapat diubah sewaktu-waktu (tidak mutlak).
3. Variabel yang dimanipulasi vs variabel hasil
Dalam penelitian eksperimen, peneliti biasanya memberikan dua atau lebih perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kondisi eksperimennya. Berarti ia menciptakan variabel.
Misalnya:
- Seorang peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh ‘reinforcement’ terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Untuk itu ia membagi kelas menjadi 3 kelompok dengan perlakuan reinforcement yang berbeda. Peneliti menentukan 3 macam reinforcement yang harus diberikan oleh guru kepada siswa bila siswa menjawab benar. Variabel perlakuan yang ‘diciptakan’ oleh peneliti ini disebut variabel eksperimental atau variabel yang dimanipulasi atau variabel perlakuan.
Secara umum
1 variabel kuantitatif
1 variabel kategorial
Variabel hasil merupakan variabel yang dapat diukur sebagai akibat dari adanya perlakuan; misalnya hasil belajar siswa, motivasi, minat.
Variabel hasil sangat bervariasi, tergantung pada individu atau kelompok yang dikenai perlakuan pada situasi dan kondisi yang berbeda.
Contoh variabel hasil:
o Rasa tidak nyaman yang dialami pelamar pekerjaan yang tercermin pada saat wawancara
o Kecemasan siswa sebelum ujian berlangsung
o Keterbukaan kelas
o Kemampuan mengungkapkan diri malalui tulisan
o Kelancaran berbahasa asing
4. Variabel bebas (independent) vs variabel tak bebas (dependent)
Hubungan antara variabel bebas dan veriabel tak bebas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Variabel bebas diasumsikan sebaggai dugaan ‘penyebab’ sedangkan variabel bebas sebagai dugaan hasil.
Tidak semua variabel independent merupakan variabel yang dimanipulasi. Perhatikan judul berikut:
“Hubungan antara keberhasilan siswa dalam fisika dengan pilihan karirnya di masa dewasa”.
5. Variabel extraneous (variabel ekstra)
Masalah mendasar dalam penelitian adalah terkadang ada beberapa variabel bebas yang dapat berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Tetapi bila peneliti sudah memutuskan variabel-variabel yang akan diteliti, maka ia juga harus memperhitungkan adanya variabel lain. Variabel ini disebut variabel ekstra. Peneliti perlu mengendalikan variabel ekstra ini, meniadakan atau meminimalkan pengaruhnya.
Variabel ekstra adalah variabel bebas yang belum dikendalikan.
Misalnya: variabel apakah yang dapat mempengarui pembelajaran siswa di kelas?
Ada banyak variabel yang berpengaruh dalam pembelajaran, seperti:
Kepribadian guru,Ø
Tingkat kecerdasan siswa,Ø
Posisi jam mengajar,Ø
Buku ajar yang digunakan,Ø
Bentuk kegiatan pembelajaran,Ø
Metode mengajarØ
Salah satu cara mengendalikan variabel ekstra adalah menjaga agar tetap konstan. Misalnya bila peneliti hanya meneliti anak laki-laki, maka ia harus mengendalikan variabel gender: gender dari subyek penelitian ini tidak bervariasi.
B. HIPOTESIS
1. Apakah hipotesis itu?
Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian. Kadang-kadang pertanyaan penelitian dinyatakan sebagai hipotesis, apa bedanya?
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan minat siswa terhadap pelajaran IPA antara siswa yang diajar oleh guru yang sama gendernya dan guru yang berbeda gendernya?
Hipotesis: Siswa yang belajar IPA dari guru yang sama gendernya akan lebih tinggi minatnya dibandingkan dengan siswa yang belajar IPA dari guru yang berbeda gendernya.
Pertanyaan penelitian: Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas dengan model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran tradisional?
Hipotesis: hasil belajar siswa pada kelas dengan model pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada kelas dengan model pembelajaran tradisional.
Atau: Ada perbedaan hasil belajar antara siswa pada kelas yang dikenai model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang dikenai model pembelajaran tradisional.
2. Keuntungan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Hipotesis memfokuskan kita untuk berpikir lebih dalam tentang kemungkinan sebagai pengganti hipotesis membimbing peneliti ke arah pemahaman yang lebih luas tentang implikasi pertanyaan dan variabel yang terlibat. Dengan menentukan hipotesis, peneliti harus berpikir lebih hati-hati.
b. Menentukan pertanyaan penelitian sebagai pengganti hipotesis berkaitan dengan filsafat sains. Rasional yang mendasari filsafat sains: Jika ingin membangun suatu pengetahuan, selain menjawab pertanyaan penelitian maka perumusan hipotesis merupakan strategi yang baik yang memungkinkan seseorang dapat melakukan prediksi spesifik berdasarkan bukti sebelumnya atau argumen teoretis.
Contoh: Berdasarkan teori relativitas Einstein, banyak hipotesis yang dirumuskan sebagai hasil teori Einstein, yang kemudian diverifikasi melalui penelitian. Semakin banyak prediksi yang menjadi kenyataan berarti semakin memperkuatt gagasan awal teori relativitas Einstein.
3. Kelemahan menentukan pertanyaan penelitian sebagai hipotesis
a. Disadari atau tidak, merumuskan hipotesis dapat bersifat bias. Sebab sekali seorang peneliti merumuskan hipotesis, maka ia cenderung untuk menyusun prosedur atau memanipulasi data untuk memperoleh hasil yang diharapkannya. Peneliti diharapkan jujur secara intelektual meskipun ada kekeliruan. Tetapi komitmen terhadap hipotesis dapat menimbulkan distorsi secara tak disadari.
b. Kelemahan kedua, perhatian yang terfokus pada hipotesis, dapat menghalangi peneliti untuk memperhatikan fenomena yang penting dalam penelitiannya. Misalnya: seorang peneliti mengkaji “efek kelas yang humanistik terhadap motivasi siswa” dapat mengarahkan peneliti untuk lebih menggali karakteristik lain seperti jenis kelamin atau cara pengmabilan keputusan yang lebih mudah terlihat dan malah tidak terfokus pada motivasi siswa.
4. Hipotesis yang signifikan
Signifikan artinya “bermakna”. Untuk menilai signifikansi suatu hipotesis mari perhatikan contoh berikut:
Hipotesis 1
a. Siswa kelas dua lebih senang menonton tv daripada sekolah
b. Kesenangan siswa kelas dua terhadap sekolah lebih rendah daripada siswa kelas satu, tetapi lebih tinggi daripada siswa kelas tiga.
Hipotesis 2
a. Banyak siswa dengan kemampuan akademik rendah lebih menyukaki kelas regular daripada kelas khusus.
b. Siswa dengan kemampuan akademik rendah akan lebih bersikap negatif tentang dirinya bila ditempatkan di kelas khusus daripada di kelas regular.
Hipotesis 3
a. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif akan menghadapi reaksi siswa yang berbeda dibandingkan dengan guru yang menggunakan model pembelajaran tradisional.
b. Siswa yang mengalami pembelajaran koperatif akan lebih senang belajar dibandingkan dengan siswa yang mengalami model pembelajaran tradisional.
Dari 3 hipotesis di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis (b) lebih bermakna, karena hubungan yang akan dikaji jelas dan spesifik, mengarahkan peneliti untuk menggali informasi yang bermanfaat bagi peneliti lain yang berminat untuk meniliti lebih lanjut.
5. Hipotesis terarah vs hipotesis tak terarah
Hipotesis terarah adalah hipotesis yang memiliki arah spesifik (lebih tinggi, lebih rendah, tinggim kurang dsb) yang diharapkan muncul dalam penelitian. Arah khusus yang diharapkan ini akan menjadi dasar bagi landasan teori yang perlu dikaji, hasil penelitian serupa yang pernah dilakukan, dan pengalaman sebelumnya. Bagian (b) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis terarah.
Kadang-kadang sulit bagi peneliti untuk menentukan hipotesis yang terarah. Jika peneliti menduga ada hubungan tetapi tidak memiliki dasar teori untuk memprediksi hubungan tersebut, maka ia tak dapat membuat hipotesis terarah. Bagian (a) dari ketiga hipotesis di atas merupakan hipotesis tak terarah. Hipotesis (a) dapat diubah menjadi hipotesis terarah bila pernyataannya diubah menjadi:
1a. Siswa kelas 1, 2, dan 3 memiliki perasaan yang berbeda terhadap sekolah
2a. Ada perbedaan sikap pada siswa yang memiliki kemampuan akademik rendah bila ditempatkan di kelas regular dan kelas khusus.
3a. Ada perbedaan kepuasan pada siswa yang mengalami pembelajaran kooperatif dan siswa yang mengalami pembelajaran tradisional.
I.P.A
Pengetahuan mengenai mahluk hidup dimanfaatkan untuk memecahkan berbagai macam masalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Berbagai masalah yang berkaitan dengan sandang, pangan, papan, energi, lingkungan kesehatan bahkan sosial dapat diatasi dengan ilmu biologi. Beberapa contoh manfaat biologi dalam kehidupan adalah :
1. Utilization of Biology in the Field of Agriculture
Today has been a lot of seeds found by conducting hybridization thus getting the desired new varieties. Through hybridization technique has been found high yielding varieties such as nuts and cereals. Rice varieties that are superior to have good taste, disease resistance, longer shelf life and short-lived.
1. Pemanfaatan Biologi Dalam Bidang Pertanian
Dewasa ini telah banyak ditemukan bibit unggul dengan mengadakan hibridisasi sehingga mendapatkan varietas baru yang diinginkan. Melalui teknik hibridisasi telah didapatkan varietas unggul seperti kacang-kacangan dan serealia. Varietas padi yang bersifat unggul memiliki rasa yang enak, tahan penyakit, daya simpan lama dan berumur pendek.
Today’s pest control has been developed through biological pest control, since the use of pesticides can menyeabkan pests become resistant, pesticide residue can contaminate the environment and the residue stored in a plant that will cause many problems for human life. Dpat pest control done in various ways including:
- Take advantage of natural predators, eg bee pests penyengatuntuk butterfly artona damaging coconut.
- Decide the life cycle of pests, for example by holding a crop rotation
- Use the seeds are durable, for example VUTW (Superior Variety Resistant planthopper)
Provision of food crop seeds multiplication especially developed tissue culture techniques for propagation of plants vegetatively propagated plantations and many plants produce clones of a number of initial network.
- Take advantage of natural predators, eg bee pests penyengatuntuk butterfly artona damaging coconut.
- Decide the life cycle of pests, for example by holding a crop rotation
- Use the seeds are durable, for example VUTW (Superior Variety Resistant planthopper)
Provision of food crop seeds multiplication especially developed tissue culture techniques for propagation of plants vegetatively propagated plantations and many plants produce clones of a number of initial network.
Pengendalian hama dewasa ini telah dikembangkan melalui pengendalian hama secara biologis, karena penggunaan pestisida dapat menyeabkan hama menjadi resisten, sisa pestisida dapat mencemari lingkungan dan residunya tersimpan dalam tanaman yang akan menimbulkan berbagai masalah bagi kehidupan manusia. Pengendalian hama dpat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
- memanfaatkan predator alamiah, contoh : hama lebah penyengatuntuk kupu-kupu artona yang merusak kelapa.
- memutuskan siklus hidup hama, misalnya dengan mengadakan rotasi tanaman
- menggunakan bibit unggul tahan lama, misalnya VUTW ( Varietas Unggul Tahan Wereng )
Penyediaan bahan makanan khususnya perbanyakan bibit tanaman dikembangkan teknik kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman perkebunan yang diperbanyak secara vegetatif dan menghasilkan banyak tanaman klon dari sejumlah jaringan awal.
- memanfaatkan predator alamiah, contoh : hama lebah penyengatuntuk kupu-kupu artona yang merusak kelapa.
- memutuskan siklus hidup hama, misalnya dengan mengadakan rotasi tanaman
- menggunakan bibit unggul tahan lama, misalnya VUTW ( Varietas Unggul Tahan Wereng )
Penyediaan bahan makanan khususnya perbanyakan bibit tanaman dikembangkan teknik kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman perkebunan yang diperbanyak secara vegetatif dan menghasilkan banyak tanaman klon dari sejumlah jaringan awal.
2. Utilization of Biology in the Field of Health
The discovery of antibiotics from fungi. Penicillium allows the production of penicillin in large quantities by Penicillium mengkulturkan yan in the fermentation tank containing a solution for its growth. Also found a vaccine that is used to increase endurance vaccinated person causing the body’s protection against viruses and certain bacteria such as: vaccination against heptitis and vaccination against whooping cough (infection by bacteria).
2. Pemanfaatan Biologi Dalam Bidang Kesehatan
Ditemukannya antibiotik dari jamur. Penicillium memungkinkan dihasilkannya penisilin dalam jumlah banyak dengan cara mengkulturkan penicillium dalam tangki fermentasi yan berisi larutan untuk pertumbuhannya. Juga ditemukan vaksin yang digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh orang yang divaksinasi sehingga menimbulkan perlindungan pada tubuh dari serangan virus dan bakteri tertentu misalnya: vaksinasi terhadap heptitis dan vaksinasi terhadap batuk rejan ( infeksi oleh bakteri ).
3. Benefits of Biology in Resolving Social Issues
DNA molecules can be isolated from the cells is then detected thus providing a picture of a typical enzyme retriksi on everyone. In the case of murder, the court can trace the culprit when a criminal leaves blood or tissue sample in place of the crime. Similarly, the seizure of children in court cases can be solved denganadanya DNA test results, because children have the same enzyme retriksi with his parents.
3. Manfaat Biologi Dalam Menyelesaikan Masalah Sosial
Molekul DNA dapat diisolasi dari sel kemudian dideteksi sehingga memberikan gambaran enzim retriksi yang khas pada setiap orang. Dalam kasus pembunuhan, pengadilan bisa melacak pelakunya bila penjahat meninggalkan sampel darah atau jaringan ditempat terjadinya kejahatan. Demikian pula kasus perebutan anak di pengadilan dapat diselesaikan denganadanya hasil tes DNA, karena anak memiliki kesamaan enzim retriksi dengan orang tuanya.
4. Benefits of Biology in Industry
By applying botany, taxonomy, zoology, and microbiology, human beings can know the types of animals and plants that can produce industrial materials. Examples of botanical used to know that plants can produce quinine quinine pills that can be used for drugs to prevent malaria. Microbiology applied to produce alcohol, soy sauce, tape (fermented cassava or rice), tempeh (fermented soybean), and tofu (soybean cake).
4. Manfaat Biologi dalam Bidang Industri
Dengan menerapkan botani, taksonomi, zoologi, dan mikrobiologi, manusia dapat mengetahui jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang dapat menghasilkan bahan-bahan industri. Contoh botani yang dipakai untuk mengetahui bahwa tanaman kina dapat menghasilkan pil kina yang dapat digunakan untuk obat pencegah penyakit malaria. Mikrobiologi diterapkan untuk memproduksi alcohol, kecap, tape, tempe, dan tahu.
Once the extent of the role of Biology in the midst of our lives so that the progress of a nation can be determined by the rate of progress of biology that is owned by the nation.
Begitu luasnya peranan Biologi di tengah-tengah kehidupan kita sehingga kemajuan suatu bangsa dapat ditentukan oleh tingkat kemajuan biologi yang dimiliki oleh bangsa tersebut.
Based on that serve targeted, then we must seriously in studying biology for study of biology means that we prepare ourselves to participate and promote the country, especially in developing biotechnology.
Berdasarkan hal tersbut, maka kita harus bersungguh-sungguh dalam mempelajari biologi karena dengan mempelajari biologi artinya kita mempersiapkan diri untuk ikut serta memajukan negara khususnya dalam membangun bioteknologi.
Langganan:
Postingan (Atom)


